Cuaca Kendari dan Wakatobi hari ini, Selasa 3 Februari 2026, menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai seluruh warga Sulawesi Tenggara. BMKG memprakirakan Kota Kendari berpotensi mengalami hujan disertai petir, sementara Kabupaten Wakatobi menghadapi ancaman gelombang tinggi di perairannya.
Prakiraan ini muncul di tengah dominasi pola monsun basah yang masih memengaruhi sebagian besar wilayah Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat di kedua wilayah perlu memantau perkembangan cuaca secara aktif dan mengambil langkah antisipasi yang tepat.
Selain hujan petir, kondisi atmosfer di Sulawesi Tenggara juga mendorong peningkatan kecepatan angin di beberapa perairan. BMKG secara khusus menyoroti Laut Banda dan Laut Flores sebagai zona dengan kecepatan angin tertinggi dalam beberapa hari ke depan.
Prakiraan Cuaca Kota Kendari Hari Ini
BMKG memprakirakan Kota Kendari mengalami cuaca hujan petir pada Selasa 3 Februari 2026. Data terkini mencatat kelembapan udara di kota ini mencapai 91 persen, sehingga atmosfer sangat mendukung pembentukan awan konvektif penghasil petir.
Angin di Kendari bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan sekitar 3 kilometer per jam. Kondisi ini tergolong tenang, namun kelembapan tinggi tetap membuka peluang besar bagi pertumbuhan awan Cumulonimbus yang memicu hujan deras dan sambaran petir.
Suhu udara di Kota Kendari berkisar antara 24 hingga 32 derajat Celsius. Pada pagi hari, suhu terasa relatif sejuk dengan langit berawan. Kemudian memasuki siang hingga sore hari, pemanasan permukaan mendorong konveksi yang meningkatkan potensi hujan petir secara signifikan.
Jarak pandang di Kendari masih tergolong baik, yaitu lebih dari 10 kilometer. Meskipun demikian, kondisi ini bisa berubah drastis ketika hujan lebat turun. Warga yang berkendara perlu menyiapkan diri menghadapi penurunan visibilitas mendadak saat hujan deras mengguyur.
Beberapa kecamatan di Kendari yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain Mandonga, Kendari, Poasia, Kendari Barat, Abeli, Wua-Wua, Kadia, Puuwatu, Kambu, dan Nambo. Selain itu, Kecamatan Baruga kerap menjadi titik rawan hujan petir pada siang hari, terutama di Kelurahan Baruga, Lepo-Lepo, Watubangga, dan Wundudopi.
Kondisi Cuaca Wakatobi Selasa Ini
Cuaca Wakatobi pada 3 Februari 2026 juga menunjukkan potensi hujan petir. BMKG mencatat perairan di sekitar kepulauan ini mengalami kondisi cuaca yang dinamis dengan angin cukup kencang.
Perairan Wakatobi bagian barat mencatat kondisi hujan petir dengan kecepatan angin mencapai 14 knot. Gelombang laut di wilayah ini mencapai ketinggian 1,5 meter, sehingga nelayan dan operator kapal perlu ekstra waspada saat melaut.
Kondisi serupa juga terjadi di Perairan Wakatobi bagian timur. BMKG mencatat hujan ringan dengan angin 14 knot dan gelombang setinggi 1,5 meter. Meskipun intensitas hujan lebih rendah dibandingkan bagian barat, gelombang tetap membahayakan perahu-perahu kecil.
Kabupaten Wakatobi yang terdiri dari empat pulau utama, yakni Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, kerap mengalami cuaca ekstrem selama musim hujan. Keempat kecamatan di pulau-pulau tersebut perlu memantau peringatan BMKG secara berkala.
Suhu udara di Wakatobi berkisar antara 25 hingga 31 derajat Celsius. Kelembapan tinggi yang mencapai 85 hingga 95 persen menciptakan kondisi ideal bagi pembentukan awan tebal, terutama pada siang dan sore hari.
Peringatan Gelombang Tinggi di Perairan Sultra
BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku untuk periode 3 hingga 6 Februari 2026. Beberapa perairan di sekitar Sulawesi Tenggara masuk dalam daftar wilayah yang perlu diwaspadai.
Gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di Laut Banda, Laut Flores, dan Teluk Bone. Ketiga perairan ini berbatasan langsung dengan wilayah Sulawesi Tenggara, sehingga dampaknya terasa signifikan bagi masyarakat pesisir dan pelaku pelayaran.
Secara khusus, BMKG mencatat kecepatan angin tertinggi saat ini terpantau di Laut Flores, Laut Banda, dan Laut Arafuru. Pola angin di wilayah Indonesia bagian selatan bergerak dari barat hingga barat laut dengan kecepatan 4 hingga 30 knot, sementara di bagian utara bertiup dari utara hingga timur laut dengan kecepatan 4 hingga 20 knot.
Perairan Baubau bagian utara dan selatan juga masuk dalam zona waspada. Demikian pula Perairan Menui-Kendari bagian barat dan timur yang berpotensi mengalami gelombang sedang hingga tinggi.
Stasiun Meteorologi Maritim Kendari secara rutin memantau kondisi perairan di Sulawesi Tenggara. Perairan Teluk Kendari-Moramo saat ini mencatat gelombang lebih tenang, yakni sekitar 0,4 meter dengan angin 4 knot dan hujan ringan. Namun kondisi ini bisa berubah seiring perkembangan dinamika atmosfer.
Pola Monsun Basah Masih Dominasi
BMKG menjelaskan bahwa kondisi cuaca di Indonesia pada awal Februari 2026 masih dipengaruhi pola monsun basah, sirkulasi siklonik, dan kelembapan tinggi. Kombinasi ketiga faktor ini meningkatkan potensi hujan sedang hingga sangat lebat di banyak wilayah, termasuk Sulawesi Tenggara.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa dinamika atmosfer global saat ini mendukung pembentukan awan hujan secara intensif. Suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia tercatat lebih rendah dibandingkan perairan Indonesia, sehingga perairan domestik menjadi sumber uap air yang melimpah.
Aktivitas Monsun Asia yang menguat turut berperan dalam meningkatkan curah hujan di wilayah Sulawesi. Selain itu, fenomena InterTropical Convergence Zone (ITCZ) membentuk pola awan memanjang yang memengaruhi distribusi hujan di sepanjang wilayah Indonesia bagian tengah.
Di perairan sekitar Wakatobi, BMKG juga mendeteksi adanya daerah belokan angin atau konvergensi. Fenomena ini mendorong massa udara lembap berkumpul dan membentuk awan-awan tebal yang berpotensi menghasilkan hujan lebat dan angin kencang secara tiba-tiba.
Dampak bagi Nelayan dan Pelayaran
Peringatan cuaca dan gelombang tinggi memberikan dampak langsung bagi aktivitas nelayan dan pelayaran di Sulawesi Tenggara. BMKG mengimbau seluruh pelaku usaha maritim untuk memperhatikan batas keselamatan berdasarkan jenis kapal yang digunakan.
Perahu nelayan harus waspada ketika kecepatan angin melebihi 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter. Sementara itu, kapal tongkang perlu berhati-hati saat angin melebihi 16 knot dengan gelombang di atas 1,5 meter.
Kapal feri yang melayani penyeberangan antarapulau di Wakatobi dan sekitarnya harus meningkatkan kewaspadaan ketika angin mencapai 21 knot dengan gelombang di atas 2,5 meter. Adapun kapal berukuran besar seperti kargo dan kapal pesiar perlu waspada saat angin melebihi 27 knot dan gelombang di atas 4 meter.
Dengan gelombang 1,5 meter yang tercatat di Perairan Wakatobi bagian barat dan timur, serta angin 14 knot, nelayan dengan perahu kecil sebaiknya menunda aktivitas melaut. Keselamatan harus menjadi prioritas utama di atas tekanan ekonomi.
Sekretaris Provinsi Sulawesi Tenggara sebelumnya pernah mengimbau agar masyarakat mengindahkan setiap peringatan BMKG, terutama untuk daerah timur. Pelayaran lokal perlu menyesuaikan jadwal keberangkatan dengan kondisi cuaca terkini.
Potensi Banjir dan Genangan di Kendari
Hujan petir yang diprakirakan BMKG berpotensi memicu genangan di beberapa titik rawan banjir di Kota Kendari. Wilayah dataran rendah dan area dengan drainase terbatas menjadi lokasi yang paling rentan mengalami genangan air.
Kota Kendari memiliki topografi yang unik dengan Teluk Kendari membelah kota menjadi dua bagian. Ketika hujan lebat turun, aliran air dari perbukitan di sekitar kota mengalir cepat menuju teluk dan seringkali melampaui kapasitas saluran drainase.
Masyarakat di kawasan pesisir Teluk Kendari perlu memantau ketinggian air secara berkala. Meskipun gelombang di Teluk Kendari-Moramo saat ini tergolong rendah di angka 0,4 meter, kombinasi hujan lebat dan pasang laut bisa meningkatkan risiko genangan di area permukiman pesisir.
Selain genangan, hujan petir juga membawa risiko sambaran petir yang membahayakan keselamatan. Warga yang beraktivitas di luar ruangan perlu segera mencari tempat berlindung ketika melihat pertumbuhan awan gelap menjulang tinggi yang menandai hadirnya Cumulonimbus.
Prakiraan Cuaca Wilayah Lain di Sulawesi Tenggara
Selain Kendari dan Wakatobi, BMKG juga memprakirakan kondisi cuaca di wilayah lain di Sulawesi Tenggara. Secara umum, provinsi ini mengalami cuaca bervariasi mulai dari berawan hingga hujan sedang pada 3 Februari 2026.
Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang. Wilayah Buton, Buton Utara, dan Buton Selatan juga perlu mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang.
Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, dan Konawe Utara diprakirakan mengalami cuaca berawan hingga hujan ringan. Sementara Bombana dan Muna berpotensi mendapat hujan ringan pada siang hingga sore hari.
Suhu udara di seluruh Sulawesi Tenggara berkisar antara 18 hingga 32 derajat Celsius, dengan kelembapan udara yang cukup tinggi di berbagai kabupaten dan kota. Kondisi ini konsisten dengan pola musim hujan yang masih berlangsung.
Tips Menghadapi Cuaca Ekstrem
BMKG mengimbau masyarakat Kendari dan Wakatobi untuk mengambil langkah-langkah kesiapsiagaan menghadapi cuaca hari ini. Pertama, warga perlu memantau prakiraan cuaca terkini melalui situs resmi BMKG atau aplikasi InfoBMKG yang menyediakan pembaruan setiap jam.
Kedua, masyarakat yang berencana bepergian dengan kendaraan bermotor sebaiknya membawa perlengkapan hujan dan memastikan kondisi ban serta lampu kendaraan berfungsi optimal. Hujan petir bisa menurunkan jarak pandang secara drastis dalam hitungan menit.
Ketiga, warga yang tinggal di kawasan rawan banjir perlu memastikan saluran drainase di sekitar rumah tidak tersumbat. Membersihkan selokan dan gorong-gorong dari sampah bisa mengurangi risiko genangan secara signifikan.
Keempat, petani dan nelayan perlu menyesuaikan jadwal aktivitas dengan kondisi cuaca. Melaut saat gelombang mencapai 1,5 meter dengan angin 14 knot sangat berisiko, terutama bagi perahu berukuran kecil.
Kelima, warga harus menghindari berlindung di bawah pohon tinggi saat terjadi petir. Sambaran petir kerap mengenai objek tertinggi di suatu area, sehingga pohon besar justru menjadi tempat paling berbahaya ketika hujan petir terjadi.
BMKG Terus Pantau Perkembangan Cuaca
BMKG menegaskan bahwa seluruh stasiun meteorologi di Sulawesi Tenggara terus melakukan pemantauan 24 jam. Stasiun Meteorologi Maritim Kendari secara khusus memantau kondisi perairan dan mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang diperbarui secara berkala.
Teuku Faisal Fathani menekankan bahwa penyampaian informasi cuaca dan peringatan dini bertujuan meningkatkan kewaspadaan, bukan menghambat aktivitas masyarakat. Informasi cuaca harus menjadi dasar pengambilan keputusan bagi pemerintah daerah maupun masyarakat.
Pemerintah daerah Sulawesi Tenggara perlu memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem. Kesiapan tim tanggap darurat, ketersediaan logistik, dan kelancaran komunikasi menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi.
Dengan kondisi monsun basah yang masih mendominasi dan aktivitas konveksi yang tinggi di wilayah Sulawesi, masyarakat Kendari dan Wakatobi perlu menjadikan peringatan BMKG sebagai panduan utama dalam merencanakan aktivitas harian. Kewaspadaan kolektif menjadi tameng terbaik menghadapi dinamika cuaca yang terus berubah sepanjang Februari 2026.
